Teknik Menemukan Bahan Cerita

Teknik Menemukan Bahan Cerita – Ada dua poin yang ingin saya sampaikan di postingan ini. Mohon perhatiannya sejenak. Kosongkan pikiran. Dan konsentrasi.

Ini tentang tips menulis cerita. Sebuah teknik bagaimana menemukan bahan cerita. Karena seringkali kita bingung tentang apa yang mau diceritakan. Meskipun pada kenyataannya setiap hari kita selalu berjumpa dengan peristiwa-peristiwa yang bisa kita ceritakan. Cuma masalah yang sering kali muncul, cerita mana yang akan kita ceritakan? Bukankah tidak semua cerita menarik untuk di simak atau didengarkan?

Jakob Sumardjo mengatakan, “meskipun anda dapat bercerita tentang banyak hal, tetapi anda tidak dapat menceritakan banyak hal itu dalam karya-karya anda.” Ini salah satu penyebab kenapa pembaca bosen dengan cerita kita. Belum tuntas di baca, kemudian berpaling ke cerita lain. Bisa jadi karena ceritanya tidak fokus dan bertele-tele. Melebar dari tema yang ingin kita sampaikan.

Kedua teknik yang bisa dicoba untuk menemukan bahan cerita tersebut antara lain: pembatasan setting cerita kemudian diuraikan bagian masalahnya dan dicari aspek-aspeknya. Sedangkan yang kedua adalah fokus pada apa yang menjadi obsesi kita.

Ilustrasi mudahnya begini, misal saya mau nulis cerita. Kebetulan saya perawat, maka saya memilih setting cerita tentang perawat. Apa masalah yg sering dialami perawat? Dianggap sebagai pembantunya dokter, gajinya kecil, sering dikatain judes, dll misalnya. Kemudian saya akan cari aspek-aspek kehidupan perawat. Bagaimana cara menyikapi masalah, keadaan lingkungannya, kehidupan orang didekatnya, dll.

Dari masalah-masalah yang sering dialami perawat tersebut saya akan ambil salah satu sebagai fokus konflik dalam cerita. Misalnya masalah gajinya kecil. Nah, di dalam cerita saya akan menjabarkan bagaimana kondisi ekonomi si perawat, bagaimana perjuangannya mencukupi kebutuhan hidup, bagaimana sikapnya terhadap perusahaan yang memberinya gaji kecil, lalu kemudian memunculkan resolusi sebagai alternatif pemecahan masalah yang dialami si perawat.

Nah, dari cerita si perawat ini pembaca akan disajikan permasalahan seputar gaji perawat yang kecil. Tidak melebar ke masalah lainnya. Masalah lain bisa disertakan jika memang diperlukan untuk mendukung jalannya cerita yang kita bangun. Ambil seperlunya saja.

Semakin jeli kita melihat aspek-aspek tersebut, maka akan semakin banyak bahan cerita. Ini memerlukan kemampuan menganalisis permasalahan yang baik hingga bisa memetakan masalah yang mana saja yang sejalan dengan tema yang akan kita ceritakan.

Ilustrasi cara yang kedua. Dengan obsesi dasar saya sebagai perawat, saya akan mengamati sejauh mana obsesi itu bisa diwujudkan dibandingkan dengan kondisi yang ada. Misalnya saya mengamati apakah perlakuan saya sudah pantas terhadap pasien tersebut, bagaimana penerimaan pasien terhadap asuhan yang saya berikan, bagaimana pandangan pasien terhadap profesi perawat,  dll.

Lalu dari hasil pengamatan tersebut saya akan menghubungkan dengan pencapaian obsesi dasar saya sebagai perawat. Bagi saya seorang perawat harus profesional. Bekerja sepenuh hati dengan mengutamakan keselamatan pasien. Jika hal ini kita hubungkan dengan permasalahan di lapangan, maka banyak sekali hal-hal yang bisa saya ceritakan. Mungkin cerita tersebut bisa kita buat dengan sudut pandang orang lain. Baik sudut pandang pasien, perawat lain, atau yang lainnya.

Nah, mengapa disini saya coba contohkan diri saya sebagai perawat? Karena basic saya perawat, pekerjaan saya perawat, dan lingkungan kerja saya adalah rumah sakit yang notabene memiliki proporsi jumlah staf perawat lebih banyak dibandingkan profesi lainnya. Menulis tema yang dekat dengan saya, yang saya kuasai, membuat saya lebih mudah menyelesaikan tulisan. Karena modal dasar ilmunya sudah di tangan. Berbeda kondisinya jika kita menulis hal yang tidakkita kuasai. Maka kita butuh mempelajari ilmunya, melakukan riset untuk mendalami apa yang akan kita tuliskan.

Tentu saja masih banyak teknik-teknik lainnya dalam menemukan bahan cerita. Saya menulis ulasan teknik ini karena kebetulan tertarik dengan ilmunya. Kedua teknik diatas dijabarkan oleh Jakob Sumardjo dalam bukunya Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Semoga catatan singkat ini bisa kita ambil pelajaran dan manfaatnya.

Mari sama-sama belajar, berdiskusi dan bertumbuh bersama meraih apa yang kita impikan. Saya juga sedang mengasah kemampuan menulis. Dengan terus belajar dan berdiskusi kiranya bisa meningkatkan level kemampuan menulis kita.

 

Salam bloger kreatif.

 

 

Leave us a Message